Senin, 19 November 2012

Sunah-Sunah Fitrah

Sunnah Fitrah itu lima : Khitan, Istihdad, Mencabut bulu ketiak, memotong kuku, memotong kumis” (Muttafaq Alaih)

“ 10 hal termasuk sunnah Fitrah : Mencukur kumis, merawat jenggot, bersiwak, mencabut bulu ketiak, istihdad, istinjak …” (Muttafaq Alaih)

Makna dari hadits di atas :
Sabda Rasul : “Fitrah itu lima…” berarti bahwa lima hal tersebut termasuk dari fitrah. Kata lima di sini bukan berarti jumlahnya ada lima saja, tetapi lima hal tersebut termasuk dari fitrah.

Kata “Fitrah” di sini berarti = As Sunnah, maksudnya yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh para Nabi, dan Allah memerintahkan kita untuk berqudwah kepada mereka. “mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka..” (Al An’am : 90)

Imam Syaukani berkata : "sunnah-sunnah para Nabi tersebut jika seseorang melakukannya, maka pelakunya di sifati sesuai dengan fitrah yang Allah ciptakan bagi manusia, hingga mereka menjadi makhluk yang paling mulia dan sempurna bentuknya."

Imam Baidhowi berkata : "Fitrah yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dipilih dan dilakukan para Nabi sejak zaman dahulu, dan ditetapkan oleh syariat."


Apakah Tujuan dari Sunnah Fitrah?

Jelas sekali tujuannya. Yaitu ia bertujuan menjaga kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Pelakunya telah melakukan hal sesuai dengan fitrah yang Allah ciptakan untuk nya.
Dikatakan “bahwa sunnah fitrah di dalamnya terdapat maslahat Dunia juga akhirat”.

1. Khitan.
Wajib bagi Laki-laki, kemuliaan bagi perempuan, dan tidak wajib bagi kaum perempuan.
Waktu Khitan : ia mempunyai waktu yg panjang. Dibolehkan dikhitan sejak ia berumur 7 hari hingga masa mendekati baligh.

2. Bersiwak.
“Siwak itu membersihkan mulut, medatangkan keridhoan Allah” (HR. Muslim).

“Kala saja tidak berat / payah untuk ummatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka untuk bersiwak pada tiap kali sholat” dalam riwayat lain: Pada tiap kali berwudhu. (HR. Muslim).

Bersiwak = sunnah muakkadah, bagi kaum laki-laki dan perempuan.

Bersiwak disunnahkan pada tiap waktu. Lebih disunnahkan lagi pada lima waktu berikut : ketika mau sholat, hendak berwudhu, hendak membaca Al Qur’an, bangun tidur, ketika bau mulut berubah.

Sunnah untuk bersiwak dengan kayu siwak, ini paling afdholnya dalam pahala. Dibolehkan juga menggunakan selain siwak, seperti sikat gigi dan pastanya.

3. Memotong Kuku.
Memotong kuku = sunnah bagi kaum laki-laki dan perempuan, baik kuku tangan ataupun kaki.

Hikmahnya = menjaga kebersihan. Ketika kuku panjang, akan terkumpul kotoran padanya.

Makruh memotong dengan gigi.

Memotong kuku dimulai dengan bagian kanan, lalu kiri.

Kaum wanita masa kini membiarkan kuku, merawat kuku panjang dengan alasan karena kecantikan. Tetapi hal ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah.

Tidak ada waktu khusus untuk memotong. Ketika kuku sudah panjang, maka itulah waktunya. Tetapi tidak boleh dibiarkan lbh dari 40 hari.
“Kami diberi waktu untuk memotng kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur kemaluan, tidak lebih dari 40 hari”. (HR. Muslim)

Sunnah memotongnya setiap hari jum’at. Jika tidak, maka tiap 15 hari, jika tidak bisa, maka tidak diboleh dibiarkan lebih dari 40 hari.

Kuku setelah dipotong sunnahnya dikubur, begitu juga rambut. Tetapi kalau dibuang tidak mengapa.


4. Memotong Kumis, Merawat Jenggot.
Manakah yang lebih afdhol, memotong atau mencukur kumis ?

Imam Nawawi berkata : memotong dan menipiskan lebih afdhol dari pada mencukur habis. Sedangkan Abu Hanifah : menipiskan hingga hampir habis, seperti dicukur lebih afdhol dari pada memotong.

Imam Thobari merajihkan dua-duanya. Jadi kaum laki-laki mempunyai 2 pilihan, dibolehkan memotongnya atau mencukurnya.

Merawat jenggot juga termasuk sunnah fitrah.
“…. Biarlah jenggot, dan cukurlah kumis..” (HR. Bukhori )

Bagaimana jika seseorang mencukur jenggot? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan haram, seperti pendapat Ibnu Taimiyah dan madzhab Hanbali.

Imam Nawawy dalam menerangkan hadits ini : sangat makruh memotong jenggot, apalagi mencukurnya.

5. Istihdad dan Mencabut bulu ketiak.
Istihdad = mencukur kemaluan dengan alat cukur. Hal ini cakupannya umum bagi kaum laki-laki dan perempuan.

Imam Nawawy : sunnah untuk mencukurnya dg alat cukur, boleh juga dihilangkan dengan yang lain, misalnya wax, dll.

Disunnahkan untuk tidak dibiarkan lebih dari 40 hari seperti dalam hadits yang sudah disebutkan pada point memotong kuku.

Mencabut bulu ketiak, bisa dengan mencabutnya, atau mencukurnya. Yang terpenting = menghilangkan untuk kebersihan.

Disunnahkan memulainya dengan anggota badan yang kanan, dan tidak membiarkannya lebih dari 40 hari.

Mencabut ketiak, dibolehkan mencabut sendiri atau meminta tolong orang lain, laki-laki dengan laki-laki, suami dengan istrinya, perempuan dengan perempuan. Adapun “istihdad” , maka tidak boleh dilakukan oleh orang lain, kecuali suami dengan istrinya.

6. Beristinjak.
Membersihkan diri setelah buang hajat, baik buang air kecil ataupun besar, baik dengan air ataupun dengan batu, atau dengan dua-duanya.
Sebutkan adab-adabnya!

7. Merawat rambut kepala (menyisiri, meminyaki, membersihkan dengan shampoo, dll)

8. Membersihkan sela-sela anggota badan yang biasanya terkumpul kotoran padanya.


9. Memakai wangi-wangian. Bagi kaum perempuan memakainya ketika di rumah dan tidak boleh memakainya ketika keluar rumah.


10. Berkumur-kumur dan beriistinsyaq, dua hal ini juga merupakan kesunnahan dalam berwudhu.




Adab Hubungan Pasutri

Islam memandang hubungan ini sebagai ibadah yang bernilai, tidak hanya sekedar hubungan seks seperti halnya binatang, tapi lebih tinggi dan lebih mulia. Di dalamnya terdapat adab-adabnya :

1.Berniat dengan hubungan tersebut karena Allah, dalam rangka menjaga diri dan pandangannya, berniat mempunyai keturunan untuk meninggikan kalimatullah.

2. Berdoa dengan doa hubungan ketika memulainya, doanya yaitu :

     بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا
dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkan kami dari syetan, dan jauhkan syetan dari kami pada apa yg Kau rizkikan kepada kami.

3. Pendahuluan sebelum jima’.

4. Menghindari jima’ di dubur, boleh dari arah mana saja, dengan syarat tidak di dubur.

5. Jika telah selesai, lalu ingin mendatangi istrinya lagi, hendaknya ia mencuci kemaluan dan berwudhu dahulu. Hal ini disunnahkan, dan bertujuan supaya menghilangkan kemalasan.

6. Wajib mandi jika :
a. bertemu dua kemaluan.
b. keluarnya air mani walaupun tidak ada pertemuan dua kemaluan.

7. Dibolehkan mengakhirkan mandi hingga menjelang masuknya waktu sholat. Tetapi disunnahkan berwudhu sebelum tidur.

8. Dibolehkan bagi pasutri mandi bersama, walaupun akan terlihat aurat masing-masing.

9. Menjauhi hubungan di farji istri jika dalam kondisi haidh. Tetapi dibolehkan “istimta’ selain di farji.

10. Diharamkan untuk membicarakan rahasia suami istri setelah hubungan pasutri.

Adab – Adab Mandi Besar:
1. Berniat menghilangkan hadats besar.
2. Membersihkan kemaluan, menghilangkan najis padanya.
3. Membersihkan kedua tangan.
4. Berwudhu sebelum mulai mandi.
5. Membersihkan sela-sela badan.
6. mengalirkan air ke kepala dengan menyela-nyela rambut kepala. Tiga kali.
7. Mengalirkan air ke badan, bagian kanan dahulu. Tiga kali.
8. Mandi besar bagi wanita yang selasai haidh atau nifas, maka setelah membersihkan kemaluan sebelum mandi, hendaknya diberi wangi-wangian dengan kapas.
9. Bagi wanita yang rambutnya lebat dan dikepang, tidak mengapa jika tidak dilepaskan kepangnya, cukup dialiri dengan air tiga kali, jika ia yakin air sampai ke kulit rambut.

0 komentar:

Poskan Komentar

By :
Free Blog Templates