Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2017

MAKALAH KOMUNIKASI PENDIDIKAN

MAKALAH
KOMUNIKASI PENDIDIKAN

Disusun Oleh :
Dea Tita Hastika (20158300219)

Dosen Pengampu
  Errina Setiawati Kesumadewi, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
STKIP KUSUMA NEGARA
JAKARTA
2016


DAFTAR ISI


DAFTAR ISI. i
DAFTAR PUSTAKA.. 58

DAFTAR PUSTAKA


Nurudin. Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016.
Morissan. Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta: Kencana, 2013.
Suprapto, Drs. Tommy. Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo, 2009.
Putra, Dianita Eka. Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh. Jakarta: Kaifa, 2010.

KOMUNIKASI PENDIDIKAN : KENDALA KOMUNIKASI

BAB XI

KENDALA KOMUNIKASI

 

A.          Kendala komunikasi

1.    Kendala komunikasi :
a)    Hambatan dari Proses  Komunikasi
·      Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi  oleh perasaan atau situasi emosional.
·      Hambatan dalam penyandian atau simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti  lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara komunikator dan komunikan tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
·      Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
·      Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada  saat menerima atau mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
·      Hambatan dalam memberikan  balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
b)   Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya:gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
c)    Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi  kadang-kadang mempunyai  arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara komunikator dan komunikan.
d)   Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara komunikator dan komunikan.
2.    Cara-cara untuk mengatasi kendala komunikasi
a.    Membuat suatu pesan secara berhati-hati, tentukan maksud dan tujuan komunikasi serta komunikan yang akan dituju.
b.    Meminimalkan gangguan dalam proses komunikasi, komunikator harus berusaha dapat membuat komunikan lebih mudah memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan sehingga penyampaian pesan dapat berlangsung tanpa gangguan yang berarti.
c.    Mempermudah upaya umpan balik antara komunikator dan komunikan. Cara dan waktu penyampaian dalam komunikasi harus direncanakan dengan baik agar mengahasilkan umpan balik dari komunikan sesuai harapan.
d.   Mengemukakan pesan (messages) dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh komunikan, menyatakan pesan tersebut dengan jelas.
e.    Bila terdapat reaksi dari pesan tersebut, didengarkan dengan simpatik, bereaksi secara bijaksana dan bertindak cepat.
f.     Hendaknya dipertimbangkan kepada siapa pesan itu ditujukan.
g.    Penggunaan alat-alat komunikasi modern.
h.    Pendekatan-pendekatan pribadi (silaturrahmi) yang dapat meng-hilangkan kelas, kepangkatan dan perbedaan golongan.
i.      Komunikator harus terus belajar akan kelemahan dirinya dalam berkomunikasi.
j.      Hendaklah digunakan waktu secukupnya untuk merencanakan komunikasi yang efisien dan efektif.
k.    Mengusahakan agar tercipta lingkungan kerja yang baik, karena lingkungan yang baik amat membantu kelancaran komunikasi.

B.          Tanya Jawab

1.        Apa saja yang menjadi kendala dalam berkomunikasi?
Jawab : Hambatan dari proses komunikasi, hambatan fisik, hambatan semantik, dan hambatan psikologis.
2.        Siapa yang dapat menyebabkan hambatan dari proses komunikasi?
Jawab : Pengirim pesan (komunikator) ataupun penerima pesan (komunikan).
3.        Di mana hambatan-hambatan diatas terjadi?
Jawab : Hambatan komunikasi dapat terjadi dimana saja tanpa memandang tempat dan waktu.
4.        Kapan hambatan fisik terjadi?
Jawab : Hambatan fisik terjadi pada saat cuaca yang buruk, gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya:gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
5.        Mengapa komunikator harus dapat membuat komunikan lebih memperhatikan pesan dari komunikasi?
Jawab : Agar penyampaian pesan dapat berlangsung tanpa gangguan yang berarti.
6.        Bagaimana mengatasi hambatan semantik?

Jawab : Dengan memberikan kejelasan pada bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sehingga tidak menimbulkan berbagai macam tafsir atau keambiguan dari bahasa yang digunakan. 

KOMUNIKASI PENDIDIKAN : 5 KAIDAH KOMUNIKASI

BAB X

5 KAIDAH KOMUNIKASI

A.          Lima kaidah komunikasi

5 kaidah komunikasi efektif yang harus dipahami jika ingin berbicara dengan efektif, yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity dan Humble), yang berarti merengkuh atau meraih. Ada keyakinan bahwa komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respons positif dari orang lain. Lima kaidah tersebut berfungsi sebagai fondasi untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan publik.
1.             Respect (Hormat)
Kaidah pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan kaidah pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Perlu diingat bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respect terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerja sama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektivitas kinerja kita, baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
2.             Empathy (Empati)
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti orang lain. Bahkan kemampuan untuk mendengarkan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti. Inilah yang disebutnya dengan komunikasi empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerja sama atau sinergi dengan orang lain.
3.             Audible (Dapat didengar dan dipahami)
Makna audible antara lain dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu atau mampu menerima balikan dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Kaidah ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui saluran tertentu sehingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Kaidah ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai cara atau alat bantu audio-visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi pribadi hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.
4.             Clarity (Jelas)
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka kaidah keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri. Hal ini agar tidak menimbulkan tafsiran yang berlainan. Kaidah paling utama dalam berkomunikasi adalah kejelasan pesan. Tidak boleh terjadi multi tafsir. Kesalahan penafsiran pesan dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak sederhana dan boleh jadi sangat merugikan.
5.             Humble (Rendah hati)
Kaidah kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini terkait dengan kaidah pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, yang biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Sikap rendah hati pada intinya antara lain sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong, dan tidak memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.

B.          Tanya Jawab

1.        Apa yang dimaksud dengan respect atau hormat dalam kaidah komunikasi?
Jawab : Sikap menghargai (respect) setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan kaidah pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Perlu diingat bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respect terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang.
2.        Siapa yang harus memiliki 5 kaidah komunikasi diatas?
Jawab : Siapa saja yang ingin agar bisa berkomunikasi dengan efektif, serta menanamkan fondasi untuk mengembangkan kemampuan berbicara didepan publik.
3.        Di mana kita harus menunjukkan ke 5 sikap respect, empathy, audible, clarity dan humble tersebut?
Jawab : Di depan publik atau khalayak umum untuk dapat menghormati orang lain dan berkomunikasi dengan efektif.
4.        Kapan kita harus menunjukkan sikap rendah hati?
Jawab : Setiap hari, setiap waktu kita harus memiliki sikap rendah hati dalam menghadapi atau berkomnikasi dengan orang lain.
5.        Mengapa clarity menjadi salah satu dari lima kaidah komunikasi?
Jawab : Agar tidak menimbulkan tafsiran yang berlainan. Kaidah paling utama dalam menyiapkan berkomunikasi adalah kejelasan pesan. Kejelasan dalam suatu pesan tidak boleh terjadi multitafsir. Karena, kesalahan penafsiran pesan dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak sederhana dan boleh jadi sangat merugikan dalam berkomunikasi.
6.        Bagaimana kita dapat memiliki sikap empati?

Jawab : Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti orang lain.

KOMUNIKASI PENDIDIKAN : PROSES KOMUNIKASI

BAB IX

PROSES KOMUNIKASI

A.     Proses Komunikasi

1.    Proses Komunikasi secara Primer
Proses komunikasi primer (Primary Process) adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. Bahwa bahasa yang paling banyak dipergunakan dalam komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah itu berbentuk idea, informasi atau opini; baik mengenal hal yang konkret maupun yang abstrak; bukan saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang.
Kial (gestrure) memang dapat menerjemahkan pikiran seseorang sehingga terekspresikan secara fisik. Akan tetapi menggapaikan tangan, atau memainkan jarijemari, atau mengedipkan mata, atau menggerakkan anggota tubuh lainnya hanya dapat mengkomunikasikan hal-hal tertentu saja (sangat terbatas).
Demikian pula isyarat dengan menggunakan alat seperti kentungan, bedug, sirine, dan lain-lain serta warna mempunyai makna tertentu. Kedua lambang itu amat terbatas kemampuannya dalam mentransmisikan pikiran seseorang kepada orang lain.
Gambar sebagai lambang yang banyak dipergunakan dalam komunikasi memang melebihi kial, isyarat, dan warna dalam hal kemampuan 'menerjemahkan” pikiran seseorang, tetapi tetap tidak melebihi bahasa. Buku-buku yang ditulis dengan bahasa sebagai lambang untuk menerjemahkan pemikiran tidak mungkin diganti oleh gambar, apalagi oleh lambang-lambang lainnya.
Demi efektifnya komunikasi, lambang-lambang tersebut sering dipadukan penggunaannya. Dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang luar biasa apabila kita terlibat dalam komunikasi yang menggunakan bahasa disertai gambar-gambar berwarna.
Berdasarkan hal di atas, pikiran dan atau perasaan seseorang baru akan diketahui oleh dan akan ada dampaknya bagi orang lain apabila ditransmisikan menggunakan media primer tadi, yakni lambang-lambang. Dengan perkataan lain, pesan (message) yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan terdiri atas isi (the content) dan lambang (symbol).
Komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan perkataan lain, komunikasi adalah proses membuat sebuah pesan setara bagi komunikator dan komunikan.
Proses tersebut, pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan kepada komunikan. la memformulasikan pikiran dan atau perasaannya ke dalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan. Kemudian giliran komunikan akan menterjemahkan sandi (decode) pesan dari komunikator itu. Ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertiannya. Dalama proses itu komunikator berfungsi sebagai penyandi (encoder) dan komunikan berfungsi sebagai penerjemah sandi (decoder).
Dalam proses penyandian (coding) itu komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi hanya ke dalam kata bermakna yang pernah dia ketahui dalam pengalamannya masing-masing. Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan komunikator cocok dengan kerangka acuan, yakni paduan pengalaman dan pengertian yang pernah diterima komunikan. Bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya bila pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain.
2.    Proses Komunikasi secara Sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat telepon, surat kabar, majalah, radio televisi, film, dan banyak lagi media kedua yang sering digunakan.
Komunikasi bermedia (mediated communication) mengalami kemajuan dengan memadukan komunikasi berlambang bahasa dan berlambang gambar dan warna. Maka film, televisi dan video pun sebagai media yang mengandung bahasa, gambar, dan warna melanda masyarakat.
Pentingnya peranan media, yakni media sekunder, dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiennya dalam mencapai komunikan. Surat kabar, radio, atau televisi misalnya, merupakan media yang efisien dalam mencapai komunikan dalam jumlah yang banyak. Jelas efisien karena dengan menyiarkan sebuah pesan satu kali saja, sudah tersebar luas kepada khalayak yang begitu banyak jumlahnya, bukan saja jutaan melainkan puluhan juta bahkan ratusan juta, seperti misalnya pidato kepala negara yang disiarkan melalui radio atau televisi. Pertandingan sepakbola yang disiarkan secara langsung, ataupun peragaan busana musim panas di Eropa yang bisa disaksikan oleh penonton di Asia. Sehingga para wanita pun tidak ketinggalan dalam mengikuti trend berpakaian.
Umpan balik dalam komunikasi bermedia, terutama media massa biasanya dinamakan umpan balik tertunda (delayed feedback) karena sampainya tanggapan atau reaksi khalayak kepada komunikator memerlukan tenggang waktu.
Karena proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, maka dalam menata lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri sifat-sifat media yang akan digunakan. Komunikan media surat poster atau papan pengumuman akan berbeda dengan komunikan surat kabar, radio, televisi atau film.
Komunikasi sekunder bermedia dapat diklasifkasikan sebagai media massa dan media nirmasa atau media nonmassa. Surat kabar, radio televisi dan film di bioskop memiliki ciri tertentu, antara lain massif atau massal. Tertuju kepada sejumlah orang dalam jumlah yang relatif amat banyak berbeda dengan media nirmassa seperti telepon, papan pengumuman yang tertuju kepada satu orang atau sejumlah orang.

B.     Tanya Jawab

1.         Apa yang dimaksud dengan komunikasi secara primer?
Jawab : Proses komunikasi primer (Primary Process) adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media.
2.         Siapa yang bertugas menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan kepada komunikan
Jawab : Komunikator atau pengirim pesan.
3.         Di mana terjadinya proses komunikasi?
Jawab : Proses komunikasi dapat terjadi dimana saja.
4.         Kapan proses komunikasi secara sekunder terjadi?
Jawab : Proses komunikasi sekunder terjadi pada saat proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Contoh medianya adalah surat telepon, surat kabar, majalah, radio televisi, film, dan banyak lagi media kedua yang sering digunakan.
5.      Mengapa dalam keberhasilan komunikasi harus memperhatikan pengalaman komunikator dan komunikan yang sama?
Jawab : Karena komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan komunikator cocok dengan pengalaman dan pengertian yang pernah diterima komunikan. Apabila antara pengalaman komunikator dan komunikan tidak cocok maka akan terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi.
6.     Bagaimana umpan balik yang diberikan oleh komunikan pada proses komunikasi secara sekunder melalui media massa?
Jawab : Karena, umpan balik pada media massa termasuk pada umpan balik tertunda maka kita  harus menjalani langkah-langkah dalam memberikan umpan balik. Mulai dari mengirimi pesan kritik pada alamat yang diberikan di media massa, dan kita harus menunggu surat kita dibaca oleh pihak yang terkait. Maka proses dari umpan balik tertunda ini akan memakan waktu yang lama.